Wearinasia, e-commerce hybrid untuk penggemar drone dan produk wearable

Wearinasia

Ranah e-commerce di Indonesia memang merupakan salah satu ranah teknologi yang tumbuh dengan subur. Berbagai vertikal muncul secara spesifik dan menyasar kalangan tertentu yang ingin berbelanja online produk yang belum tentu tersedia – semisal smartwatch dan drone seri tertentu di kebanyakan e-commerce umum seperti Lazada, Blibli, dan lainnya. Melihat kondisi ini, sebuah startup kini hadir bagi Anda yang ingin membeli produk khusus wearable, Internet of Things (IoT), dan drone di Indonesia.

Adalah Wearinasia, sebuah startup e-commerce bagi para early adopter yang ingin memiliki produk-produk tersebut. Andrew Gunawan, CMO Wearinasia menjelaskan bahwa startup yang didirikan oleh tim berisi tiga orang ini resmi diluncurkan pada akhir Desember 2014 dan ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup para konsumennya melalui teknologi wearable, IoT, dan drone. “Semua berawal ketika saya melihat smartwatch dari Pebble. Dari situ, saya melakukan sedikit penelitian dan menemukan beberapa fakta mengenai wearable dan potensi yang dimiliki,” ungkap Andrew. “Setelah merasa yakin dengan pangsa pasar yang ada, saya mengajak Albert Sudartanto (COO) dan James Roberto (CTO) untuk bergabung mengembangkan Wearinasia.”

Sebelum mendirikan Wearinasia, Andrew adalah seorang digital marketer yang telah berpengalaman di beberapa perusahaan agensi lokal, serta sebelumnya pernah bekerja di sejumlah startup e-commerce di Indonesia.

Membangun Indonesia yang lebih baik melalui teknologi

Drone Wearinasia

Salah satu produk drone yang dijual di Wearinasia

Andrew mengatakan bahwa ia berharap dengan produk-produk yang dijual, dapat membuat Indonesia menjadi negara teknologi yang jauh lebih maju. Melalui produk wearable, Wearinasia ingin mendorong orang-orang di Indonesia untuk menciptakan sebuah kebiasaan baru yang lebih produktif. Sementara melalui produk drone, startup ini mempunyai rencana yang ambisius yaitu ingin menjadikan teknologi sebagai sebuah alat bagi penduduk dan pemerintah Indonesia guna memaksimalkan potensi yang terdapat dalam negara kepulauan ini dengan biaya yang paling minim. “Kami berani untuk berpikir beda dalam hal produk yang dijual dan eksekusi yang kami lakukan,” ujar Andrew.

Ambisi tersebut tampaknya masih terbuka cukup lebar di tanah air. Selain vertikal yang terbilang baru, Wearinasia dari pengamatan Tech in Asia merupakan satu-satunya pemain e-commerce yang khusus menyediakan wearable dan drone kepada publik. Namun, secara tidak langsung, mereka tentunya akan berhadapan dengan pemain e-commerce raksasa tanah air seperti Lazada, Blibli, dan Bhinneka. Situs e-commerce lainnya memang mempunyai produk wearable dan drone. Namun, dilihat dari varian yang ditawarkan, Wearinasia masih mempunyai katalog yang lebih lengkap.
WearinAsiaNews
Satu hal yang juga membedakan Wearinasia dengan situs-situs e-commerce tersebut adalah fakta bahwa Wearinasia merupakan sebuah startup hybrid media dan e-commerce. “Kami mempunyai konsep 60 persen e-commerce dan 40 persen media karena kami merasa konsumen di Indonesia masih harus dididik mengenai manfaat produk yang kami jual di Wearinasia,” ungkap Andrew.

Sejak bulan Januari 2015, Wearinasia sudah memiliki 1.000 pengunjung terdaftar dan 8.000 unique visitor. Dengan metrik tersebut, Andrew mengungkapkan bahwa mereka baru berhasil melakukan 40 transaksi. Namun, ia mengklaim sumber pendapatan mereka bukan hanya tergantung pada penjualan produk. Andrew lebih jauh menjelaskan bahwa ia melakukan monetasi melalui tiga cara: Penjualan produk, iklan media, dan kerja sama brand. Dalam hal penjualan produk, Wearinasia mengambil margin yang kecil antara 5-10 persen karena mereka ingin tetap menekan harga semurah mungkin agar memiliki penetrasi yang kuat di tanah air.

Baca juga: Empat website yang bisa membantu Anda berjualan di media sosial

Potensi besar yang dimiliki produk wearable

Menurut GFK, pengguna smartphone di Indonesia naik sebesar 70 persen dari tahun 2013 ke 2014 dengan pertumbuhan tahunan sebesar 30 persen. Hal ini membuka lahan baru bagi perangkat wearable, yang notabene merupakan aksesoris atau perpanjangan tangan sebuah smartphone.

Andrew mengatakan bahwa proyeksi ukuran pasar wearable secara keseluruhan adalah sebesar 112 juta produk pada tahun 2018, namun ia percaya angka tersebut akan mudah dilampaui setelah harga produk wearable turun karena menurunnya biaya produksi dan banyaknya pengembang yang masuk di ranah ini. Setelah penetrasi Wearinasia cukup kuat dan masyarakat tanah air mengerti tentang produk wearable dan drone, Andrew mengungkapkan bahwa mereka memiliki proyeksi revenue sebesar Rp18,6 miliar untuk tiga tahun pertamanya.

Saat ini, Wearinasia belum memiliki investor dari manapun, dan untuk kedepannya, mereka sedang mengembangkan sebuah platform mobile dalam bentuk aplikasi yang dapat memungkinkan pengguna melakukan pembelanjaan langsung melalui perangkat mobile.

(Diedit oleh Pradipta Nugrahanto)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.